Kamis, 07 Juli 2011

Pahlawan Yang Terlupakan


Saya membaca dua buah buku tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Buku pertama disusun oleh Bapak Achmad, seorang veteran asal Tegal. Buku ini merupakan kumpulan laporan perjuangan warga daerah tersebut mulai dari pengumuman proklamasi kemerdekaan, mengusir Jepang, menghadapi pemberontakan Tiga Daerah, pemberontakan DI/TII  sampai perang dengan Belanda. Bapak Achmad menutup laporannya dengan kembalinya para pejuang ke dalam kota Tegal yang semula diduduki Belanda.
            Awal ketertarikan pada buku ini adalah ketika pembacaan saya sampai pada peristiwa pencegatan kereta api oleh tentara Belanda. Warga sipil dan pejuang memenuhi kereta api meninggalkan kota Tegal yang hampir jatuh ke tangan Belanda. Sayang, di tengah jalan kereta api tersebut dicegat oleh pesawat tempur dan tank Belanda. Sungguh menarik upaya pejuang meloloskan diri dari kepungan Belanda sekaligus menyelamatkan warga sipil yang ada di dalam kereta. Sungguh menarik bila kisah pencegatan kereta api itu dinovelkan.
            Gagasan untuk menovelkan perjuangan kemerdekaan Indonesia membuat saya mencoba membuat cerita pendek berdasarkan peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam buku ini. Jadilah cerpen-cerpen sebagaimana yang dipublikasikan di dalam blog ini. Tujuan penulisan cerpen-cerpen ini adalah menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme pada generasi muda. Karena sasarannya generasi muda (anak-anak) maka cerpennya pun dibuat pendek, bahkan cerita yang panjang saya jadikan dua atau tiga cerpen.
Untuk menyusun cerpen saya membaca buku ini berulang-ulang. Ternyata banyak kisah menarik yang dialami para pejuang kita dan menggugah saya untuk men-cerpen-kannya. Sebut saja misalnya cerita tentang satu regu pejuang dipimpin Sersan Achmad yang terkepung di tengah-tengah Belanda. Mereka terpaksa harus berendam di dalam sungai selama enam belas jam. Kisah lain yang menarik adalah macetnya senjata pada saat-saat genting, atau granat yang tidak meledak. Saya kagum dengan tekad ribuan orang yang berjalan empat hari empat malam dari Tegal ke Temanggung hanya untuk mencari bambu runcing. Saya bisa merasakan bagaimana kagetnya Belanda ketika mereka mendapati bendera yang berkibar di markasnya telah diganti menjadi merah putih !
Saya bisa merasakan bagaimana terharunya pejuang-pejuang kita saat berhasil merebut dan memasuki kembali kota Tegal yang sekian lama ditinggalkan. Saya juga bisa merasakan bagaimana gembiranya warga Tegal menyambut kedatangan pahlawan-pahlawan yang telah membebaskan kotanya dari cengkeraman Belanda. Kesedihan dan kebanggaan bercampur-baur pada mereka yang kehilangan orang-orang yang dicintainya akibat kekejaman perang.
Buku kedua yang tak kalah menariknya adalah buku yang disusun oleh Bapak Matia Majiah. Buku ini berisi sejarah prajurit kesehatan selama perang kemerdekaan di daerah Banten. Hampir setiap paragraf dalam buku ini bisa dikembangkan menjadi sebuah cerpen. .
Cerpen yang berlatar belakang perang kemerdekaan saat ini sangat jarang, apalagi  bila latar belakangnya adalah kisah nyata. Padahal dewasa ini tak bisa dipungkiri fakta bahwa jiwa patriotisme dan nasionalisme pada generasi muda  cenderung merosot. Lihat saja misalnya pada acara Agustusan.  Bisakah generasi muda menghayati perjuangan para pahlawan melalui lomba makan kerupuk dan lomba-lomba semacamnya? Nasionalisme macam apa yang bisa didapat dari lomba panjat pinang, balap karung atau tangkap belut ? Bagaimana perasaan para veteran melihat jerih-payah mereka diwujudkan (atau, lebih parah lagi disamakan) dengan lomba kelereng, lomba mengupas buah, atau lomba merias saat tujuh-belasan ? Lomba-lomba tujuh-belasan tersebut lebih bersifat hiburan daripada penghargaan kepada pahlawan ! Pembacaan puisi dan pementasan drama perjuangan lebih tepat untuk menggugah nasionalisme dan patriotisme, sayangnya  masyarakat kurang berminat.
Kembali ke buku susunan Bapak Matia Majiah, banyak fakta menarik yang diceritakan beliau. Tahukah pembaca bahwa ada seorang wanita yang menjadi sarjana (diploma) kimia pertama di Indonesia dan wanita ini mengajari pejuang bagaimana caranya membuat bom ? Saya ikut bangga dengan kemampuan pejuang membuat bom sendiri meskipun kadang bom tersebut meledak di tangan. Apa pendapat Anda mengenai seregu pejuang yang berangkat perang tetapi lupa membawa senjata penting ? Tidakkah pembaca tercengang atas kenekatan seorang pejuang yang menyerang tank Belanda dengan kelewang ?
Fakta lain yang menarik di dalam buku ini adalah upaya membangun rumah sakit tentara yang bisa dipindah-pindahkan. Rasa salut saya sampaikan kepada prajurit-prajurit kesehatan yang dengan cerdik berhasil mengubah bekas gerbong kereta api menjadi rumah sakit seperti yang dimaksud. Bagian yang paling menarik perhatian saya yang dilaporkan dalam buku ini adalah  ketika wabah cacar mengancam pejuang-pejuang kita. Mereka tidak bisa memperoleh vaksin karena diblokade oleh Belanda. Terpaksa pasukan kesehatan berusaha keras membuat vaksinnya sendiri. Adalah mengherankan bagaimana mereka berhasil membuat vaksin di tengah serba kekurangan sarana dan prasana akibat blokade Belanda ! Keberhasilan ini lebih mengherankan lagi mengingat pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pembuatan vaksin masih sangat minim !
Sebagai penutup, tidak lupa saya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada Bapak Achmad dan Bapak Matia Majiah. Jasa mereka berdua dalam mendokumentasikan perjuangan bangsa sungguh besar. Pengorbanan mereka berdua dalam ikut aktif mempertahankan kemerdekaan negeri ini tidak boleh dilupakan. Semoga tetesan darah dan keringat mereka berdua dan semua pejuang bangsa tidak dilupakan oleh generasi muda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar